Senin, 29 Juni 2009

Ujian (paling) Nasional

Hari-hari terakhir ini berita tentang pelaksanaan ujian nasional berikut perdebatan yang mengiringinya ikut mengisi mata dan telinga kita, berebut tempat dengan berita kompetisi di panggung politik yang mulai menuju ke arah kepemimpinan nasional.

Bagi yang telah menempuhnya, silahkan menunggu pengumuman hasil evaluasi belajar selama beberapa tahun (saya sebut beberapa karena ada yang menempuhnya tidak secara persis sesuai dengan harapan) dengan menenang-nenangkan diri. Bagaimanapun proses sudah berlangsung. Kita tinggal menunggu hasilnya. Bagi yang lulus, silahkan sejenak merayakan keberhasilan karena memang sudah ditakdirkan tidak semua orang bisa lulus lubang jarum sistem evaluasi ini.

Ibu saya, perempuan yang membesarkan saya dengan penuh cinta, tak bisa melanjutkan pendidikan lebih dari tingkatan SD. Bukan karena tidak lulus ujian, tetapi karena memang tidak bisa. Dulu, zaman Ibu saya masih sekolah dulu, ujian akhir hanya dilaksanakan di ibukota Kabupaten. Untuk sampai ke sana, orang harus berjalan kaki selama 2 hari dan semalam menginap di jalan. Sampai di situ masih harus naik kelotok (sampan besar bermesin) selama 1 hari lagi, plus tempat menginap dan konsumsi di perjalanan. Bagi keluarga yang bersahaja seperti kebanyakan keluarga di kampung kami waktu itu, ijazah sangat tidak pantas ditukar dengan biaya dan pengorbanan sebesar itu. Kata Ibu, hanya 3 orang temannya yang memang keluarganya tergolong mampu yang bisa berangkat untuk ikut ujian di Kabupaten saat itu. Sementara Ibu yang sebenarnya berprestasi sejak kelas 1 SD, terpaksa menyerah pada keadaan. Saya tahu Ibu pasti kecewa karena menurut cerita dari Nenek dulu, Ibu demam panas selama seminggu karena tidak bisa mengikuti ujian di ibukota Kabupaten itu.

Ayah saya pun bukan berangkat dari keluarga berada. Setelah yatim piatu di kelas 3 SD, Ayah harus berpindah-pindah dari keluarga satu ke keluarga lain yang sesungguhnya tidak sungguh-sungguh berkemampuan dan bekerja keras untuk dapat sekolah. Ijazah SMAnya diperoleh ketika ia telah bekerja sebagai pegawai negeri dan memperoleh izin belajar. Berkaca pada kisah hidup Ibu, dan Ayah yang berjuang keras untuk dapat bersekolah, hari ini saya menyadari kekecewaan mereka ketika dulu saya memutuskan untuk berhenti kuliah begitu saja tanpa mempertimbangkan perasaan mereka. Meski kemudian saya kuliah lagi dan dalam waktu singkat sekarang hampir menyelesaikan S-1 saya, tentu tak lagi sama. Tak lagi sama ...:((

Ada pergeseran di masyarakat kita tentang pentingnya sebuah pendidikan. Kalau zaman dahulu, pendidikan bukan sesuatu yang perlu ditebus dengan pengorbanan. Perkembangan zaman membuka cakrawala berfikir pentingnya pendidikan bagi mempersiapkan lahirnya generasi masa depan yang lebih CERDAS sehingga diharapkan mampu menjawab tantangan zaman. Ukuran kecerdasan tersebut terlihat dari terus ditingkatkannya standar nilai kelulusan menjadi minimal 5,5.

Hampir dipastikan mereka yang "cerdas" kemudian bisa lulus dari Ujian Nasional. Sayangnya kemudian kecerdasan menjadi satu-satunya acuan bahwa mereka bisa sukses dan bahagia dalam kehidupan. Ketika tolak ukur kecerdasan adalah nilai yang tercantum dalam ijazah yang diperoleh dari proses Ujian Nasional, akibatnya ada saja (saya tidak menyebut angka) pihak yang beranggapan kelulusan Ujian Nasional pantas diusahakan, bahkan dengan sebuah kecurangan.

Kedua orang tua saya yang bersusah payah menempuh pendidikan mengajarkan kepada saya. Yang paling penting itu proses. Bukan hasil. Tidak ada keberhasilan yang sifatnya instan. Ujian Nasional pada dasarnya hanya satu ujian kecil dari kesuluruhan ujian kehidupan. Tidak lulus Ujian Nasional bukan kiamat andai kita lulus dari ujian waktu dan tidak memaksakan sebuah kecerdasan palsu. Percayalah, ini bukan kalimat hiburan untuk mereka yang kali ini tidak lulus ujian.

Selain Ujian Nasional dan ujian kehidupan sepanjang waktu, sebentar lagi kita memasuki Pemilu Presiden dan Wakil Presiden. Sejumlah orang yang pantas untuk memimpin kita melewati ujian kehidupan sebagai bangsa akan diuji dalam sebuah proses Ujian (paling) Nasional. Kita semua sedang menguji keputusan kita sendiri. Ini lebih dari sekedar pilihan ganda. Ini soal 5 tahun ke muka. Apakah kita memilih karena kepentingan nasional atau individual, atau apakah kelak mereka yang terpilih memang merupakan orang-orang yang cerdas dan tulus atau tergolong mereka yang memiliki kecerdasan dan ketulusan palsu, maaf saya tidak punya bocoran jawaban. Biar waktu yang menjawabnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar