Saya awali tulisan sederhana ini dengan sebuah pertanyaan. Peristiwa seperti apakah yang menggerakkan jemari kita untuk menulis?
Seringkali kita hanya ingin menulis sesuatu yang - menurut kita - besar dan penting untuk ditulis. Kita merasa berat untuk menulis sesuatu yang sederhana dan biasa-biasa saja. Padahal terlalu sedikit peristiwa besar dalam kehidupan kita yang sederhana dan biasa-biasa ini. Begitu juga orang-orang yang ada di sekeliling kita.
Tiba-tiba saya teringat orang-orang "sederhana" yang sepanjang pengetahuan saya tekun menulis sesuatu yang secara kasat mata memang berangkat dari sebuah kesederhanaan. Tentang sesuatu yang begitu biasa dalam kehidupan kita sehingga seringkali kita malas untuk menuliskannya. Satu dari mereka pernah saya temui secara langsung, yang lainnya hanya saya kenal melalui karya-karya mereka yang menurut saya sama sekali tidak sederhana.
Guru kesederhanaan pertama bagi saya adalah Yusakh Ananda. Sampai saat sebelum kepulangan saya ke kampung halaman, penulis senior yang pernah dijuluki HB Jassin sebagai barometer cerpen Indonesia tahun 50'an ini masih tetap berkarya di sela-sela kesibukannya berjualan es dan bubur di sebuah kantin SD di Pontianak (terakhir dengan dana sekedarnya dari teman-teman FLP tahun 2002 yang lalu hasil Antologi Cerpen Cermin dan Malam Ganjil beliau berjualan Bensin kecil-kecilan di belakang rumahnya). Apa yang ditulisnya dalam karya? Kampungku Yang Sunyi, salah satu cerpennya yang pernah diterjemahkan dalam sejumlah bahasa asing "hanya" berkisah tentang suasana kampung halamannya saat ia masih kecil. Begitu juga cerpennya yang berjudul "Kain Tilam" yang mengisahkan sebuah keluarga yang sekalipun mengalami penderitaan zaman pendudukan Jepang masih bersedia membagi sehelai kain tilam yang dimilikinya untuk pakaian sekedarnya bagi tetangga lain yang sama-sama menjadi korban perang. Suatu zaman yang memang pernah dilaluinya. Begitu juga cerpen "Si Manis dan Anak-Anaknya" yang mengisahkan tentang nasib seekor kucing yang tak lagi disayangi oleh majikannya setelah tua, yang sebenarnya menurut saya begitu kental nilai humanisme yang disuguhkannya.
Penulis "sederhana" lainnya adalah Alm. (?) Kuntowijoyo. Guru Besar Ilmu Sejarah ini begitu memikat saat menulis "Dilarang Mencintai Bunga-Bunga". Tema yang sebenarnya sepele tentang seorang anak laki-laki yang sangat suka menanam bunga seperti kakek tetangganya meskipun sang ayah lebih menyukainya mengerjakan "pekerjaan lelaki". Kesederhanaan yang sama nampak dalam karya-karya beliau yang lain seperti Hampir Sebuah Subversif (ingatkan saya kalau judulnya keliru) yang "hanya" dengan setting pemilihan kepala desa Pak Kunto bisa menyentil prilaku elit politik di negeri ini.
Akhirnya saya sampai pada kesimpulan, tidak ada tema yang sederhana. Sejauh ini yang ada adalah karya yang sederhana. Jadi berikan ruang di kepala dan hati kita untuk secangkir kopi yang tumpah, vas bunga aluminium yang jelek dan kusam, tukang bakso yang setiap hari lewat di depan rumah, atau daster ibu yang kusam di jemuran pakaian. Jangan tunggu sebuah peristiwa dahsyat menghampiri kita. Kalau peristiwa seperti itu yang kita tunggu untuk menulis, mungkin akan butuh waktu yang lama bagi kita untuk menulis.
Walt Disney sukses ketika ia mengabadikan tikus kecil yang mondar-mandir di garasi yang menjadi ruang kerjanya. Kalau ia menunggu sesuatu yang besar - mungkin gajah - yang lewat di garasinya mungkin ia tidak akan pernah mencapai kesuksesannya seperti sekarang ini.
Jika kita tidak menemukan sesuatu yang besar dalam kehidupan kita yang sederhana, make one ...!
Senin, 29 Juni 2009
Sederhana Itu Istimewa
Label:
cerpen,
daster ibu,
elit politik,
gajah,
karya,
kuntowijoyo,
peristiwa,
secangkir kopi,
sederhana,
tikus,
vas bunga,
walt disney,
yusakh ananda
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar