Kau ingat dengan Heryanto? Jangan cari namanya di deretan daftar nama-nama calon anggota lesgilatif yang berhasil duduk maupun yang tetap berdiri karena tidak kebagian kursi. Jangan pula kau cari di setumpuk kartu yang memenuhi sakumu. Percuma. Tak akan ada namanya di sana. Bahkan tidak mengapa jika kau bilang tidak mengenalnya. Heryanto mungkin memang tidak pernah singgah di lintasan hari-hari pentingmu. Kalau bukan karena sebuah peristiwa, mungkin saya pun tidak akan pernah mengenal namanya. Heryanto singgah dalam ingatan saya pada sebuah hari menjelang rencana saya dan sejumlah teman menghadiri Pertemuan Sastrawan Nusantara XII di Singapura. Saat mengetik proposal perjalanan untuk Gubernur di sebuah warnet kampus saya mendengar kabar tentangnya.
September 2003 yang lalu tiba-tiba saja bocah Garut berusia 11 tahun itu menjadi berita. Disebabkan permintaan uang kepada ayah dan ibunya sebesar [hanya] Rp. 2.500,- untuk keperluan praktek salah satu pelajaran di sekolahnya tidak dapat dipenuhi, Heryanto yang malang merasa sedih dan tertekan. Kedua orangtuanya bukan tak mau memberi. Tapi buruh serabutan dan tukang cuci pakaian itu memang sedang tak punya uang. Kemudian entah darimana ia mendapat inspirasi, seutas kawat kemudian menjadi pilihan sarana untuk menghabisi nyawanya sendiri. Rencananya memang dapat digagalkan. Tetapi terputusnya aliran oksigen ke otak selama tergantung di udara menyebabkan ia kemudian harus menjalani terapi bertahun-tahun lamanya untuk dapat kembali tumbuh normal. Tragis ... Dan beritanya saat itu membuat kami membatalkan rencana menghadiri PSN XII di Singapura. Tidak tega rasanya mengajukan permintaan biaya kepada pemerintah untuk menghadiri sebuah pertemuan sastra - padahal saya cuma penulis kecil dan tidak ada apa-apanya yang keranjingan bepergian - sementara di sekeliling saya ada jutaan Heryanto lain berdiri dengan tangan yang terkulai lunglai.
Hari ini, ditengah semarak Hari Pendidikan Nasional, di antara berita sekolah gratis dan ketersediaan 20 % anggaran pendidikan, tiba-tiba saja saya teringat kembali kepadanya. Seperti menjadi sebuah peringatan untuk tidak menganggap masalah pendidikan di negeri ini sudah selesai dengan program sekolah gratis dan ketersediaan anggaran seperti amanat undang-undang. Konon di sebuah daerah antah berantah, seorang Kepala Dinas yang diberi kepercayaan untuk mengurusi soal pendidikan mengaku terus terang masih kebingungan mau diapakan anggaran yang 20 % ini. Tidakkah kebingungan ini kemudian menjadi peluang untuk menjadi masalah baru di negeri ini? Entahlah. Semoga saja tidak terjadi.
Mengkaca pada Heryanto saya harus menunduk malu menyadari belum bisa melakukan sesuatu yang bermakna bagi banyak orang lain yang membutuhkan lebih dari sekedar keprihatinan. Rp. 2.500 bagi Heryanto - juga bagi anak-anak lain yang membutuhkannya - adalah pertaruhan bagi masa depannya sekeluarga. Sementara saya seringkali tidak bisa mengendalikan diri untuk menghamburkan sekian kali dua ribu lima ratusan untuk hal-hal yang sebenarnya tidak sungguh-sungguh saya perlukan. Betapa sering saya merasa puas dengan hal-hal kecil dan sederhana yang saya lakukan dengan teman-teman di kampung saya melalui rangkaian kegiatan sosial, padahal semua yang kami lakukan tidak seberapa. Dan andai kami dihinggapi ujub dan riya, niscaya sia-sialah semuanya.
Maka biarlah Heryanto tetap berdiri dalam ingatan saya. Menjadi monumen tentang berapa harga yang sudah saya berikan untuk kehidupan. Untuk sebuah masa depan ...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar