ssst ...
biar kita simpan kata-kata
dalam kaleng kerupuk rombeng
biarkan mereka gaduh di sana
asal jangan di telinga
tapi pindahkan dulu
semua isinya ke atas piring beling
lalu suguhkan padaku
sebab yang kita telan bertahun-tahun
cuma kekosongan
lalu jangan kau tanya
kenapa dahaga itu masih ada
kalau secangkir puisi
hanya menyisakan setetes sepi
tanah kelahiran, 24 Juni 2009
Senin, 29 Juni 2009
Terkenang Heryanto (Catatan Hari Pendidikan Nasional
Kau ingat dengan Heryanto? Jangan cari namanya di deretan daftar nama-nama calon anggota lesgilatif yang berhasil duduk maupun yang tetap berdiri karena tidak kebagian kursi. Jangan pula kau cari di setumpuk kartu yang memenuhi sakumu. Percuma. Tak akan ada namanya di sana. Bahkan tidak mengapa jika kau bilang tidak mengenalnya. Heryanto mungkin memang tidak pernah singgah di lintasan hari-hari pentingmu. Kalau bukan karena sebuah peristiwa, mungkin saya pun tidak akan pernah mengenal namanya. Heryanto singgah dalam ingatan saya pada sebuah hari menjelang rencana saya dan sejumlah teman menghadiri Pertemuan Sastrawan Nusantara XII di Singapura. Saat mengetik proposal perjalanan untuk Gubernur di sebuah warnet kampus saya mendengar kabar tentangnya.
September 2003 yang lalu tiba-tiba saja bocah Garut berusia 11 tahun itu menjadi berita. Disebabkan permintaan uang kepada ayah dan ibunya sebesar [hanya] Rp. 2.500,- untuk keperluan praktek salah satu pelajaran di sekolahnya tidak dapat dipenuhi, Heryanto yang malang merasa sedih dan tertekan. Kedua orangtuanya bukan tak mau memberi. Tapi buruh serabutan dan tukang cuci pakaian itu memang sedang tak punya uang. Kemudian entah darimana ia mendapat inspirasi, seutas kawat kemudian menjadi pilihan sarana untuk menghabisi nyawanya sendiri. Rencananya memang dapat digagalkan. Tetapi terputusnya aliran oksigen ke otak selama tergantung di udara menyebabkan ia kemudian harus menjalani terapi bertahun-tahun lamanya untuk dapat kembali tumbuh normal. Tragis ... Dan beritanya saat itu membuat kami membatalkan rencana menghadiri PSN XII di Singapura. Tidak tega rasanya mengajukan permintaan biaya kepada pemerintah untuk menghadiri sebuah pertemuan sastra - padahal saya cuma penulis kecil dan tidak ada apa-apanya yang keranjingan bepergian - sementara di sekeliling saya ada jutaan Heryanto lain berdiri dengan tangan yang terkulai lunglai.
Hari ini, ditengah semarak Hari Pendidikan Nasional, di antara berita sekolah gratis dan ketersediaan 20 % anggaran pendidikan, tiba-tiba saja saya teringat kembali kepadanya. Seperti menjadi sebuah peringatan untuk tidak menganggap masalah pendidikan di negeri ini sudah selesai dengan program sekolah gratis dan ketersediaan anggaran seperti amanat undang-undang. Konon di sebuah daerah antah berantah, seorang Kepala Dinas yang diberi kepercayaan untuk mengurusi soal pendidikan mengaku terus terang masih kebingungan mau diapakan anggaran yang 20 % ini. Tidakkah kebingungan ini kemudian menjadi peluang untuk menjadi masalah baru di negeri ini? Entahlah. Semoga saja tidak terjadi.
Mengkaca pada Heryanto saya harus menunduk malu menyadari belum bisa melakukan sesuatu yang bermakna bagi banyak orang lain yang membutuhkan lebih dari sekedar keprihatinan. Rp. 2.500 bagi Heryanto - juga bagi anak-anak lain yang membutuhkannya - adalah pertaruhan bagi masa depannya sekeluarga. Sementara saya seringkali tidak bisa mengendalikan diri untuk menghamburkan sekian kali dua ribu lima ratusan untuk hal-hal yang sebenarnya tidak sungguh-sungguh saya perlukan. Betapa sering saya merasa puas dengan hal-hal kecil dan sederhana yang saya lakukan dengan teman-teman di kampung saya melalui rangkaian kegiatan sosial, padahal semua yang kami lakukan tidak seberapa. Dan andai kami dihinggapi ujub dan riya, niscaya sia-sialah semuanya.
Maka biarlah Heryanto tetap berdiri dalam ingatan saya. Menjadi monumen tentang berapa harga yang sudah saya berikan untuk kehidupan. Untuk sebuah masa depan ...
September 2003 yang lalu tiba-tiba saja bocah Garut berusia 11 tahun itu menjadi berita. Disebabkan permintaan uang kepada ayah dan ibunya sebesar [hanya] Rp. 2.500,- untuk keperluan praktek salah satu pelajaran di sekolahnya tidak dapat dipenuhi, Heryanto yang malang merasa sedih dan tertekan. Kedua orangtuanya bukan tak mau memberi. Tapi buruh serabutan dan tukang cuci pakaian itu memang sedang tak punya uang. Kemudian entah darimana ia mendapat inspirasi, seutas kawat kemudian menjadi pilihan sarana untuk menghabisi nyawanya sendiri. Rencananya memang dapat digagalkan. Tetapi terputusnya aliran oksigen ke otak selama tergantung di udara menyebabkan ia kemudian harus menjalani terapi bertahun-tahun lamanya untuk dapat kembali tumbuh normal. Tragis ... Dan beritanya saat itu membuat kami membatalkan rencana menghadiri PSN XII di Singapura. Tidak tega rasanya mengajukan permintaan biaya kepada pemerintah untuk menghadiri sebuah pertemuan sastra - padahal saya cuma penulis kecil dan tidak ada apa-apanya yang keranjingan bepergian - sementara di sekeliling saya ada jutaan Heryanto lain berdiri dengan tangan yang terkulai lunglai.
Hari ini, ditengah semarak Hari Pendidikan Nasional, di antara berita sekolah gratis dan ketersediaan 20 % anggaran pendidikan, tiba-tiba saja saya teringat kembali kepadanya. Seperti menjadi sebuah peringatan untuk tidak menganggap masalah pendidikan di negeri ini sudah selesai dengan program sekolah gratis dan ketersediaan anggaran seperti amanat undang-undang. Konon di sebuah daerah antah berantah, seorang Kepala Dinas yang diberi kepercayaan untuk mengurusi soal pendidikan mengaku terus terang masih kebingungan mau diapakan anggaran yang 20 % ini. Tidakkah kebingungan ini kemudian menjadi peluang untuk menjadi masalah baru di negeri ini? Entahlah. Semoga saja tidak terjadi.
Mengkaca pada Heryanto saya harus menunduk malu menyadari belum bisa melakukan sesuatu yang bermakna bagi banyak orang lain yang membutuhkan lebih dari sekedar keprihatinan. Rp. 2.500 bagi Heryanto - juga bagi anak-anak lain yang membutuhkannya - adalah pertaruhan bagi masa depannya sekeluarga. Sementara saya seringkali tidak bisa mengendalikan diri untuk menghamburkan sekian kali dua ribu lima ratusan untuk hal-hal yang sebenarnya tidak sungguh-sungguh saya perlukan. Betapa sering saya merasa puas dengan hal-hal kecil dan sederhana yang saya lakukan dengan teman-teman di kampung saya melalui rangkaian kegiatan sosial, padahal semua yang kami lakukan tidak seberapa. Dan andai kami dihinggapi ujub dan riya, niscaya sia-sialah semuanya.
Maka biarlah Heryanto tetap berdiri dalam ingatan saya. Menjadi monumen tentang berapa harga yang sudah saya berikan untuk kehidupan. Untuk sebuah masa depan ...
Ujian (paling) Nasional
Hari-hari terakhir ini berita tentang pelaksanaan ujian nasional berikut perdebatan yang mengiringinya ikut mengisi mata dan telinga kita, berebut tempat dengan berita kompetisi di panggung politik yang mulai menuju ke arah kepemimpinan nasional.
Bagi yang telah menempuhnya, silahkan menunggu pengumuman hasil evaluasi belajar selama beberapa tahun (saya sebut beberapa karena ada yang menempuhnya tidak secara persis sesuai dengan harapan) dengan menenang-nenangkan diri. Bagaimanapun proses sudah berlangsung. Kita tinggal menunggu hasilnya. Bagi yang lulus, silahkan sejenak merayakan keberhasilan karena memang sudah ditakdirkan tidak semua orang bisa lulus lubang jarum sistem evaluasi ini.
Ibu saya, perempuan yang membesarkan saya dengan penuh cinta, tak bisa melanjutkan pendidikan lebih dari tingkatan SD. Bukan karena tidak lulus ujian, tetapi karena memang tidak bisa. Dulu, zaman Ibu saya masih sekolah dulu, ujian akhir hanya dilaksanakan di ibukota Kabupaten. Untuk sampai ke sana, orang harus berjalan kaki selama 2 hari dan semalam menginap di jalan. Sampai di situ masih harus naik kelotok (sampan besar bermesin) selama 1 hari lagi, plus tempat menginap dan konsumsi di perjalanan. Bagi keluarga yang bersahaja seperti kebanyakan keluarga di kampung kami waktu itu, ijazah sangat tidak pantas ditukar dengan biaya dan pengorbanan sebesar itu. Kata Ibu, hanya 3 orang temannya yang memang keluarganya tergolong mampu yang bisa berangkat untuk ikut ujian di Kabupaten saat itu. Sementara Ibu yang sebenarnya berprestasi sejak kelas 1 SD, terpaksa menyerah pada keadaan. Saya tahu Ibu pasti kecewa karena menurut cerita dari Nenek dulu, Ibu demam panas selama seminggu karena tidak bisa mengikuti ujian di ibukota Kabupaten itu.
Ayah saya pun bukan berangkat dari keluarga berada. Setelah yatim piatu di kelas 3 SD, Ayah harus berpindah-pindah dari keluarga satu ke keluarga lain yang sesungguhnya tidak sungguh-sungguh berkemampuan dan bekerja keras untuk dapat sekolah. Ijazah SMAnya diperoleh ketika ia telah bekerja sebagai pegawai negeri dan memperoleh izin belajar. Berkaca pada kisah hidup Ibu, dan Ayah yang berjuang keras untuk dapat bersekolah, hari ini saya menyadari kekecewaan mereka ketika dulu saya memutuskan untuk berhenti kuliah begitu saja tanpa mempertimbangkan perasaan mereka. Meski kemudian saya kuliah lagi dan dalam waktu singkat sekarang hampir menyelesaikan S-1 saya, tentu tak lagi sama. Tak lagi sama ...:((
Ada pergeseran di masyarakat kita tentang pentingnya sebuah pendidikan. Kalau zaman dahulu, pendidikan bukan sesuatu yang perlu ditebus dengan pengorbanan. Perkembangan zaman membuka cakrawala berfikir pentingnya pendidikan bagi mempersiapkan lahirnya generasi masa depan yang lebih CERDAS sehingga diharapkan mampu menjawab tantangan zaman. Ukuran kecerdasan tersebut terlihat dari terus ditingkatkannya standar nilai kelulusan menjadi minimal 5,5.
Hampir dipastikan mereka yang "cerdas" kemudian bisa lulus dari Ujian Nasional. Sayangnya kemudian kecerdasan menjadi satu-satunya acuan bahwa mereka bisa sukses dan bahagia dalam kehidupan. Ketika tolak ukur kecerdasan adalah nilai yang tercantum dalam ijazah yang diperoleh dari proses Ujian Nasional, akibatnya ada saja (saya tidak menyebut angka) pihak yang beranggapan kelulusan Ujian Nasional pantas diusahakan, bahkan dengan sebuah kecurangan.
Kedua orang tua saya yang bersusah payah menempuh pendidikan mengajarkan kepada saya. Yang paling penting itu proses. Bukan hasil. Tidak ada keberhasilan yang sifatnya instan. Ujian Nasional pada dasarnya hanya satu ujian kecil dari kesuluruhan ujian kehidupan. Tidak lulus Ujian Nasional bukan kiamat andai kita lulus dari ujian waktu dan tidak memaksakan sebuah kecerdasan palsu. Percayalah, ini bukan kalimat hiburan untuk mereka yang kali ini tidak lulus ujian.
Selain Ujian Nasional dan ujian kehidupan sepanjang waktu, sebentar lagi kita memasuki Pemilu Presiden dan Wakil Presiden. Sejumlah orang yang pantas untuk memimpin kita melewati ujian kehidupan sebagai bangsa akan diuji dalam sebuah proses Ujian (paling) Nasional. Kita semua sedang menguji keputusan kita sendiri. Ini lebih dari sekedar pilihan ganda. Ini soal 5 tahun ke muka. Apakah kita memilih karena kepentingan nasional atau individual, atau apakah kelak mereka yang terpilih memang merupakan orang-orang yang cerdas dan tulus atau tergolong mereka yang memiliki kecerdasan dan ketulusan palsu, maaf saya tidak punya bocoran jawaban. Biar waktu yang menjawabnya
Bagi yang telah menempuhnya, silahkan menunggu pengumuman hasil evaluasi belajar selama beberapa tahun (saya sebut beberapa karena ada yang menempuhnya tidak secara persis sesuai dengan harapan) dengan menenang-nenangkan diri. Bagaimanapun proses sudah berlangsung. Kita tinggal menunggu hasilnya. Bagi yang lulus, silahkan sejenak merayakan keberhasilan karena memang sudah ditakdirkan tidak semua orang bisa lulus lubang jarum sistem evaluasi ini.
Ibu saya, perempuan yang membesarkan saya dengan penuh cinta, tak bisa melanjutkan pendidikan lebih dari tingkatan SD. Bukan karena tidak lulus ujian, tetapi karena memang tidak bisa. Dulu, zaman Ibu saya masih sekolah dulu, ujian akhir hanya dilaksanakan di ibukota Kabupaten. Untuk sampai ke sana, orang harus berjalan kaki selama 2 hari dan semalam menginap di jalan. Sampai di situ masih harus naik kelotok (sampan besar bermesin) selama 1 hari lagi, plus tempat menginap dan konsumsi di perjalanan. Bagi keluarga yang bersahaja seperti kebanyakan keluarga di kampung kami waktu itu, ijazah sangat tidak pantas ditukar dengan biaya dan pengorbanan sebesar itu. Kata Ibu, hanya 3 orang temannya yang memang keluarganya tergolong mampu yang bisa berangkat untuk ikut ujian di Kabupaten saat itu. Sementara Ibu yang sebenarnya berprestasi sejak kelas 1 SD, terpaksa menyerah pada keadaan. Saya tahu Ibu pasti kecewa karena menurut cerita dari Nenek dulu, Ibu demam panas selama seminggu karena tidak bisa mengikuti ujian di ibukota Kabupaten itu.
Ayah saya pun bukan berangkat dari keluarga berada. Setelah yatim piatu di kelas 3 SD, Ayah harus berpindah-pindah dari keluarga satu ke keluarga lain yang sesungguhnya tidak sungguh-sungguh berkemampuan dan bekerja keras untuk dapat sekolah. Ijazah SMAnya diperoleh ketika ia telah bekerja sebagai pegawai negeri dan memperoleh izin belajar. Berkaca pada kisah hidup Ibu, dan Ayah yang berjuang keras untuk dapat bersekolah, hari ini saya menyadari kekecewaan mereka ketika dulu saya memutuskan untuk berhenti kuliah begitu saja tanpa mempertimbangkan perasaan mereka. Meski kemudian saya kuliah lagi dan dalam waktu singkat sekarang hampir menyelesaikan S-1 saya, tentu tak lagi sama. Tak lagi sama ...:((
Ada pergeseran di masyarakat kita tentang pentingnya sebuah pendidikan. Kalau zaman dahulu, pendidikan bukan sesuatu yang perlu ditebus dengan pengorbanan. Perkembangan zaman membuka cakrawala berfikir pentingnya pendidikan bagi mempersiapkan lahirnya generasi masa depan yang lebih CERDAS sehingga diharapkan mampu menjawab tantangan zaman. Ukuran kecerdasan tersebut terlihat dari terus ditingkatkannya standar nilai kelulusan menjadi minimal 5,5.
Hampir dipastikan mereka yang "cerdas" kemudian bisa lulus dari Ujian Nasional. Sayangnya kemudian kecerdasan menjadi satu-satunya acuan bahwa mereka bisa sukses dan bahagia dalam kehidupan. Ketika tolak ukur kecerdasan adalah nilai yang tercantum dalam ijazah yang diperoleh dari proses Ujian Nasional, akibatnya ada saja (saya tidak menyebut angka) pihak yang beranggapan kelulusan Ujian Nasional pantas diusahakan, bahkan dengan sebuah kecurangan.
Kedua orang tua saya yang bersusah payah menempuh pendidikan mengajarkan kepada saya. Yang paling penting itu proses. Bukan hasil. Tidak ada keberhasilan yang sifatnya instan. Ujian Nasional pada dasarnya hanya satu ujian kecil dari kesuluruhan ujian kehidupan. Tidak lulus Ujian Nasional bukan kiamat andai kita lulus dari ujian waktu dan tidak memaksakan sebuah kecerdasan palsu. Percayalah, ini bukan kalimat hiburan untuk mereka yang kali ini tidak lulus ujian.
Selain Ujian Nasional dan ujian kehidupan sepanjang waktu, sebentar lagi kita memasuki Pemilu Presiden dan Wakil Presiden. Sejumlah orang yang pantas untuk memimpin kita melewati ujian kehidupan sebagai bangsa akan diuji dalam sebuah proses Ujian (paling) Nasional. Kita semua sedang menguji keputusan kita sendiri. Ini lebih dari sekedar pilihan ganda. Ini soal 5 tahun ke muka. Apakah kita memilih karena kepentingan nasional atau individual, atau apakah kelak mereka yang terpilih memang merupakan orang-orang yang cerdas dan tulus atau tergolong mereka yang memiliki kecerdasan dan ketulusan palsu, maaf saya tidak punya bocoran jawaban. Biar waktu yang menjawabnya
Sederhana Itu Istimewa
Saya awali tulisan sederhana ini dengan sebuah pertanyaan. Peristiwa seperti apakah yang menggerakkan jemari kita untuk menulis?
Seringkali kita hanya ingin menulis sesuatu yang - menurut kita - besar dan penting untuk ditulis. Kita merasa berat untuk menulis sesuatu yang sederhana dan biasa-biasa saja. Padahal terlalu sedikit peristiwa besar dalam kehidupan kita yang sederhana dan biasa-biasa ini. Begitu juga orang-orang yang ada di sekeliling kita.
Tiba-tiba saya teringat orang-orang "sederhana" yang sepanjang pengetahuan saya tekun menulis sesuatu yang secara kasat mata memang berangkat dari sebuah kesederhanaan. Tentang sesuatu yang begitu biasa dalam kehidupan kita sehingga seringkali kita malas untuk menuliskannya. Satu dari mereka pernah saya temui secara langsung, yang lainnya hanya saya kenal melalui karya-karya mereka yang menurut saya sama sekali tidak sederhana.
Guru kesederhanaan pertama bagi saya adalah Yusakh Ananda. Sampai saat sebelum kepulangan saya ke kampung halaman, penulis senior yang pernah dijuluki HB Jassin sebagai barometer cerpen Indonesia tahun 50'an ini masih tetap berkarya di sela-sela kesibukannya berjualan es dan bubur di sebuah kantin SD di Pontianak (terakhir dengan dana sekedarnya dari teman-teman FLP tahun 2002 yang lalu hasil Antologi Cerpen Cermin dan Malam Ganjil beliau berjualan Bensin kecil-kecilan di belakang rumahnya). Apa yang ditulisnya dalam karya? Kampungku Yang Sunyi, salah satu cerpennya yang pernah diterjemahkan dalam sejumlah bahasa asing "hanya" berkisah tentang suasana kampung halamannya saat ia masih kecil. Begitu juga cerpennya yang berjudul "Kain Tilam" yang mengisahkan sebuah keluarga yang sekalipun mengalami penderitaan zaman pendudukan Jepang masih bersedia membagi sehelai kain tilam yang dimilikinya untuk pakaian sekedarnya bagi tetangga lain yang sama-sama menjadi korban perang. Suatu zaman yang memang pernah dilaluinya. Begitu juga cerpen "Si Manis dan Anak-Anaknya" yang mengisahkan tentang nasib seekor kucing yang tak lagi disayangi oleh majikannya setelah tua, yang sebenarnya menurut saya begitu kental nilai humanisme yang disuguhkannya.
Penulis "sederhana" lainnya adalah Alm. (?) Kuntowijoyo. Guru Besar Ilmu Sejarah ini begitu memikat saat menulis "Dilarang Mencintai Bunga-Bunga". Tema yang sebenarnya sepele tentang seorang anak laki-laki yang sangat suka menanam bunga seperti kakek tetangganya meskipun sang ayah lebih menyukainya mengerjakan "pekerjaan lelaki". Kesederhanaan yang sama nampak dalam karya-karya beliau yang lain seperti Hampir Sebuah Subversif (ingatkan saya kalau judulnya keliru) yang "hanya" dengan setting pemilihan kepala desa Pak Kunto bisa menyentil prilaku elit politik di negeri ini.
Akhirnya saya sampai pada kesimpulan, tidak ada tema yang sederhana. Sejauh ini yang ada adalah karya yang sederhana. Jadi berikan ruang di kepala dan hati kita untuk secangkir kopi yang tumpah, vas bunga aluminium yang jelek dan kusam, tukang bakso yang setiap hari lewat di depan rumah, atau daster ibu yang kusam di jemuran pakaian. Jangan tunggu sebuah peristiwa dahsyat menghampiri kita. Kalau peristiwa seperti itu yang kita tunggu untuk menulis, mungkin akan butuh waktu yang lama bagi kita untuk menulis.
Walt Disney sukses ketika ia mengabadikan tikus kecil yang mondar-mandir di garasi yang menjadi ruang kerjanya. Kalau ia menunggu sesuatu yang besar - mungkin gajah - yang lewat di garasinya mungkin ia tidak akan pernah mencapai kesuksesannya seperti sekarang ini.
Jika kita tidak menemukan sesuatu yang besar dalam kehidupan kita yang sederhana, make one ...!
Seringkali kita hanya ingin menulis sesuatu yang - menurut kita - besar dan penting untuk ditulis. Kita merasa berat untuk menulis sesuatu yang sederhana dan biasa-biasa saja. Padahal terlalu sedikit peristiwa besar dalam kehidupan kita yang sederhana dan biasa-biasa ini. Begitu juga orang-orang yang ada di sekeliling kita.
Tiba-tiba saya teringat orang-orang "sederhana" yang sepanjang pengetahuan saya tekun menulis sesuatu yang secara kasat mata memang berangkat dari sebuah kesederhanaan. Tentang sesuatu yang begitu biasa dalam kehidupan kita sehingga seringkali kita malas untuk menuliskannya. Satu dari mereka pernah saya temui secara langsung, yang lainnya hanya saya kenal melalui karya-karya mereka yang menurut saya sama sekali tidak sederhana.
Guru kesederhanaan pertama bagi saya adalah Yusakh Ananda. Sampai saat sebelum kepulangan saya ke kampung halaman, penulis senior yang pernah dijuluki HB Jassin sebagai barometer cerpen Indonesia tahun 50'an ini masih tetap berkarya di sela-sela kesibukannya berjualan es dan bubur di sebuah kantin SD di Pontianak (terakhir dengan dana sekedarnya dari teman-teman FLP tahun 2002 yang lalu hasil Antologi Cerpen Cermin dan Malam Ganjil beliau berjualan Bensin kecil-kecilan di belakang rumahnya). Apa yang ditulisnya dalam karya? Kampungku Yang Sunyi, salah satu cerpennya yang pernah diterjemahkan dalam sejumlah bahasa asing "hanya" berkisah tentang suasana kampung halamannya saat ia masih kecil. Begitu juga cerpennya yang berjudul "Kain Tilam" yang mengisahkan sebuah keluarga yang sekalipun mengalami penderitaan zaman pendudukan Jepang masih bersedia membagi sehelai kain tilam yang dimilikinya untuk pakaian sekedarnya bagi tetangga lain yang sama-sama menjadi korban perang. Suatu zaman yang memang pernah dilaluinya. Begitu juga cerpen "Si Manis dan Anak-Anaknya" yang mengisahkan tentang nasib seekor kucing yang tak lagi disayangi oleh majikannya setelah tua, yang sebenarnya menurut saya begitu kental nilai humanisme yang disuguhkannya.
Penulis "sederhana" lainnya adalah Alm. (?) Kuntowijoyo. Guru Besar Ilmu Sejarah ini begitu memikat saat menulis "Dilarang Mencintai Bunga-Bunga". Tema yang sebenarnya sepele tentang seorang anak laki-laki yang sangat suka menanam bunga seperti kakek tetangganya meskipun sang ayah lebih menyukainya mengerjakan "pekerjaan lelaki". Kesederhanaan yang sama nampak dalam karya-karya beliau yang lain seperti Hampir Sebuah Subversif (ingatkan saya kalau judulnya keliru) yang "hanya" dengan setting pemilihan kepala desa Pak Kunto bisa menyentil prilaku elit politik di negeri ini.
Akhirnya saya sampai pada kesimpulan, tidak ada tema yang sederhana. Sejauh ini yang ada adalah karya yang sederhana. Jadi berikan ruang di kepala dan hati kita untuk secangkir kopi yang tumpah, vas bunga aluminium yang jelek dan kusam, tukang bakso yang setiap hari lewat di depan rumah, atau daster ibu yang kusam di jemuran pakaian. Jangan tunggu sebuah peristiwa dahsyat menghampiri kita. Kalau peristiwa seperti itu yang kita tunggu untuk menulis, mungkin akan butuh waktu yang lama bagi kita untuk menulis.
Walt Disney sukses ketika ia mengabadikan tikus kecil yang mondar-mandir di garasi yang menjadi ruang kerjanya. Kalau ia menunggu sesuatu yang besar - mungkin gajah - yang lewat di garasinya mungkin ia tidak akan pernah mencapai kesuksesannya seperti sekarang ini.
Jika kita tidak menemukan sesuatu yang besar dalam kehidupan kita yang sederhana, make one ...!
Label:
cerpen,
daster ibu,
elit politik,
gajah,
karya,
kuntowijoyo,
peristiwa,
secangkir kopi,
sederhana,
tikus,
vas bunga,
walt disney,
yusakh ananda
Langganan:
Komentar (Atom)
